Selasa, 28 Oktober 2008
Berani Hidup
Without courage, we cannot practice any other virtue with consistency.
We can't be kind, true, merciful, generous, or honest.
~Maya Angelou
Be a warrior, not a worrier.
~Jennie S. Bev
Banyak lagu di Indonesia yang bertemakan kesedihan dan kenestapaan. Betapa kasihannya diriku karena aku orang miskin dan tidak punya. Ayah juga tidak punya, Ibunda juga tiada. Istri juga belum punya, apalagi anak. Rumah juga hanya terbuat dari bilik saja dan bepergian ke mana-mana naik bis kota yang sumpek dan berbau keringat. Seringkali dihina pula. Ah, betapa aku orang yang sungguh perlu dikasihani. Aku segan hidup, tapi belum mau mati.
Apa yang tersirat di dalam lirik seperti itu? Kurangnya keberanian untuk hidup. Kurangnya rasa syukur yang dalam akan makna hidup yang sebenarnya. Sudah diberi hidup untuk hari ini, masih juga mempermasalahkan kemiskinan dan tidak punya ini dan itu. Padahal, cukup dengan modal "hidup" saja, masalah kemiskinan dan tidak punya pasangan hidup bisa dicari sendiri pemecahannya. Pendapat seperti ini banyak membuat hati saya tidak enak, karena seakan-akan tidak bersyukur sama sekali akan harta tidak ternilai, yaitu kehidupan yang diberikan kepada kita karena kita begitu istimewa di mataNya.
Kekhawatiran luar biasa membebani setiap langkah yang diambil di dalam hidup. Ini sangat tidak baik. Kegalauan hati juga memberi warna kelabu, apalagi ketidakberanian untuk mengubah diri. Dengan mempercayai bahwa diri kita lemah dan tidak berdaya, maka alam bawah sadar kita sungguh percaya bahwa kita itu lemah dan tidak berdaya. Jadilah di dalam benak hanya ada satu yang dicari-cari: rasa belas kasihan bagi diri kita, yang datang baik dari luar maupun dari dalam diri.
Mungkin Anda sekarang berpikir, "Ah, Ibu Jennie ini bisa saja, karena dia toh tidak pernah merasakan naik bis kota. Dia kan ke mana-mana naik mobil mewah dan makan di hotel berbintang lima." Eit, nanti dulu. Ketika saya kuliah di Depok, saya memang mempunyai pilihan untuk diantar jemput oleh sopir pribadi maupun naik bis kota karena orang tua mampu membiayai, walaupun mungkin dengan sangat pas-pasan. Yang mana pilihan saya, menurut Anda? Naik bis kota setiap hari. Aneh bukan?
Waktu itu belum ada bis Patas ber-AC, sehingga mau tidak mau saya naik bis dari Sarinah ke Pancoran, terus dari Pancoran ke Pasar Minggu, dan dari Pasar Minggu baru ada mobil unyil ke Depok. Turun di Margonda yang masih belum sepenuhnya beraspal saat itu, saya jalan kaki di tanah yang kadang-kadang becek di kala musim hujan dan selalu berlumpur tanah merah sepanjang tahun. Repot sekali karena berarti celana jins dan sepatu kets saya mesti dicuci begitu tiba di rumah, kalau tidak ya tanah merahnya akan menempel permanen nodanya.
Selama perjalanan di dalam bis, tidak jarang saya mengalami hal-hal yang memalukan dan diolok-olok karena tinggi tubuh saya yang 172 sentimeter, sangat jangkung untuk ukuran Indonesia. Belum lagi wajah saya yang sangat "amoy" itu. Hal-hal rasis dan olok-olok yang tidak-tidak karena fisik saya sudah menjadi makanan sehari-hari. Paling tidak pasti ada sinar mata penuh rasa ingin tahu yang saya terima setiap hari dari sesama para penumpang. Untunglah karena saya langganan setiap hari, para supir dan kenek bis sudah kenal dengan si "amoy jangkung" ini. Hal-hal begini sudah membuat saya "kebal" juga akhirnya.
Saat itu pernah terbesit di benak saya, betapa sesungguhnya saya sangat berbeda dari orang kebanyakan. Jika dituliskan lagi mendayu-dayu ala dangdut maupun pop sendu Indonesia, mungkin ada lirik begini, "Betapa malangnya nasibku, ayah tidak punya, ibunda hidup susah kerja sendirian. Belum lagi tampangku Cina dan tinggiku seringkali mentok di dalam Metro Mini. Aku hidup susah, semua orang melihatku aneh dan berbeda dari orang lain." Lucu dan "kasihan banget" bukan?
Eh, anehnya, tidak pernah satu kalipun saya merasa demikian. Malah kalau terdengar lagu-lagu mendayu, hati ini rasanya geli sekali. Tidak jarang saya tertawa terbahak-bahak mendengar hal-hal yang "mengasihani diri sendiri." Mengapa? Karena di dalam benak saya, setiap hari haruslah menjadi hari yang lebih baik daripada kemarin. Dan ini tidak bisa di dapat dengan memanjakan diri bahwa "aku ini orang yang perlu dikasihani."
Seperti billionaire philanthropist terkenal James Stowers pendiri American Century Investments pernah berkata, "If you don't think tomorrow is going to be better than today, why get up? You've got to believe each new day is going to be better, and you have to be determined to make it so. If you are determined, then certainlyl... the best is yet to be." Jika Anda tidak yakin bahwa hari esok akan lebih baik, mengapa bangun pagi? Anda harus percaya bahwa setiap hari baru akan menjadi lebih baik dari kemarin dan Anda mesti usahakan untuk menjadikannya demikian. Keyakinan Anda akan menjadikannya yang terbaik, jauh lebih baik.
Beberapa waktu lalu, pemerintah Indonesia memberikan label "desa miskin" untuk desa-desa yang mempunyai income level di bawah garis kemiskinan. Saya sendiri kalau diizinkan untuk berkomentar sedikit, tapi mudah-mudahan tidak dianggap asbun ya. Bukankah sebaiknya ditulis "desa yang sedang membangun dengan semangat besar menuju masa depan yang lebih cerah lagi." Untuk singkatnya, ya "desa membangun" saja. Bagaimana efeknya ketika dibaca? Memberi semangat keberanian untuk maju, bukan? Mudah-mudahan saja label "desa miskin" seperti ini sudah ditiadakan saat ini. Saya doakan. Namun siapalah saya ini memberi masukan seperti ini.
Nah, keberanian untuk hidup berarti juga tidak mengasihani diri sendiri sama sekali. Berani hidup berarti berani menanggung kesulitan hidup karena mempunyai kepercayaan diri yang besar bahwa semuanya pasti bisa diatasi. Setiap hari adalah hari baru yang pasti lebih baik daripada hari kemarin. Kalau begitu, apa lagi yang perlu dikhawatirkan? Mari kita mentertawai kekhawatiran dan ketakutan.
Jennie S. Bev
Penulis, pengusaha, dan edukator asal Indonesia yang sukses di Amerika Serikat.
Berani Gagal
Pada akhir 1981, saya merasa tak puas dengan pola kuliah yang membosankan. Saya nekad meninggalkan kehidupan kampus. Saat itu saya berpikir, bahwa gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal dalam mengejar cita-cita lain. Di tahun 1982, saya kemudian mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.
Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Dari awalnya yang sangat sepi peminat - hanya 2 orang - sampai akhirnya peminatnya membludak hingga Primagama dapat membuka cabang di ratusan kota, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia.
Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang yang sukses dari pada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal.
Maka, bila Anda seorang entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, maka jangan berharap orang akan memuji Anda. Jangan berharap pula orang di sekitar anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal.
Jangan berharap Anda tidak disalahkan. Jangan berharap juga semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda. Jangan berharap Anda akan mendapat dukungan moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara. Jangan berharap bank akan memberikan pinjaman selanjutnya.
Mengapa saya melukiskan gambaran yang begitu buruk bagi seorang entrepreneur yang gagal? Begitulah masyarakat kita, cenderung memuji yang sukses dan menang. Sebaliknya, menghujat yang kalah dan gagal. Kita sebaiknya mengubah budaya seperti itu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang yang kedua.
Menurut pengalaman saya, apabila orang gagal, maka tidak ada gunanya murung dan memikirkan kegagalannya. Tetapi perlu mencari penyebabnya. Dan justru kita harus lebih tertantang lagi dengan usaha yang sedang kita jalani yang mengalami kegagalan itu. Saya sendiri lebih suka mempergunakan kegagalan atau pengalaman negatif itu untuk menemukan kekuatan-kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali.
Sudah tentu, kasus kegagalan dalam bisnis maupun dunia kerja, saat krisis ekonomi kian merebak dan bertambah. Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kehilangan mata pencahariannya. Sungguh ironis, seperti halnya kita, suka atau tidak suka, setiap manusia pasti akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan.
Bagi seorang entrepreneur, sebaiknya jangan sampai terpuruk dengan kondisi dan suasana seperti itu. Kita harus berani menghadapi kegagalan, dan ambil saja hikmahnya (kejadian dibalik itu). Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi gagah, tatkala lemah. Menjadi berani ketika kita takut. Itu sebabnya mengapa saya juga sepakat dengan pendapat Richard Gere, aktor terkemuka Hollywood, yang mengatakan bahwa kegagalan itu penting bagi karier siapapun.
Mengapa demikian? Karena selama ini banyak orang membuat kesalahan sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Justru sebaliknya, kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan.
Ada beberapa sebab dari kegagalan itu sendiri. Pertama, kita ini sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu "melankolis" dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.
Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Bila kita mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan menemui kegagalan, maka sebaiknya kia bekerja sepuluh kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran semacam itu, maka akan tetap menjadikan kita sebagai sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur seorang entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali.
Purdi E Chandra
Belajar Dari Sumirah
Menjadi tukang pijat belumlah cukup. Sumirah nyambi jadi tukang sol sepatu, penjahit, dan pekerja pabrik. Sebagian hasil keringatnya itu ia gunakan untuk membangun madrasah, masjid, musala, dan mengurus anak yatim.
Ternyata, beramal tidak harus menunggu kaya.
Penolakan halus langsung diucapkan Sumirah, pimpinan Panti Asuhan Yatim Piatu Amanah, Rungkut, Surabaya saat akan diwawancarai Surya untuk tulisan ini.
"Saya ini apalah mbak, kok pakai diwawancarai. Masih banyak yang lebih bagus, lebih pintar dan lebih hebat", elaknya saat ditemui di Panti Asuhan Amanah sekaligus rumahnya di Jalan Pandugo Gg II Nomor 30 B, Rungkut, Senin (15/9) lalu.
Secara materi, Sumirah memang belum bisa dibandingkan dengan pengusaha sukses. Namun kekayaan hati Sumirah mungkin hanya dimiliki segelintir orang di abad ini.
Perempuan kelahiran 3 April 1965 ini tak cukup mengelola panti asuhan. Ia mendirikan madrasah, masjid, dan musala di kampungnya, Pacitan. Mungkin juga sulit dipercaya, Sumirah menghidupi anak-anak yatim dengan menjadi tukang pijat panggilan.
Rasa empati Sumirah sudah terpupuk sejak kecil. Ia terbiasa bergaul dengan anak-anak yatim asuhan almarhum Atmorejo, ayahnya. Saat itu ada 100 anak yatim dan anak-anak lain yang berlatih ilmu kanuragan (kebatinan) di rumah. Mereka semua? tinggal di rumah,・kata ibu lima anak ini.
Secara materi Sumirah kecil tercukupi, namun didikan ayahnya tidak membuatnya manja. Bahkan, sejak kelas II SD dia sudah menjadi tukang pijat alternatif, warisan keahlian turun temurun. Duitnya 'ditabung' di musala di Desa Kembang, Kecamatan Pacitan.
Saat itu saya masih ingat nasihat ayah.
"Kalau kamu punya rezeki, 50 persen untuk kamu dan 50 persen lagi untuk musala. Pasti rezeki itu akan barokah", kenangnya.
Pesan almarhum ayahnya terus diingat Sumirah. Setiap rupiah dihasilkan, selalu disisihkan untuk musala. Begitu pula ketika orderan memijat merambah hingga Madiun, bahkan Semarang.
Saat SMP, Sumirah dan kakaknya hijrah ke Jakarta. Di kota megapolitan ini Sumirah tidak tertarik mencicip pekerjaan lain. Ndilalah, kemampuan memijatnya tersohor hingga ke Jawa Barat. Pada 1986, Sumirah dan suami mencari peruntungan di Surabaya. Di kota ini, selain tetap memijat, ia bekerja di pabrik PT Horison Sintex (sekarang Lotus). Ia hanya masuk pabrik hari Selasa, Rabu, dan Kamis.
Namun dua profesi itu belum cukup. Merasa waktunya masih senggang, Sumirah mencari pekerjaan sampingan. Ia menjadi tukang sol sepatu, menjahit baju, dan tukang keriting rambut.
"Karena pekerjaan banyak, rata-rata saya hanya tidur dua jam sehari. Mijat saja sehari hingga 20 kali", akunya sambil tersenyum.
Kerja keras itu impas dengan hasilnya. Sehari, tidak kurang ia mengantongi Rp 2 juta. Namun limpahan uang itu tidak membuatnya mabuk. Uang itu dialirkan untuk membangun madrasah, musala-musala, dan masjid di desanya. Sumirah enggan menyebut nama-nama musala itu. nanti saya ndak di-ridhoi kalau pamer,・tukasnya.
Suatu ketika, Sumirah pulang kampung. Jalan di desanya tidak bisa dilewati karena rusak berat. Prihatin, ia dan suaminya mem-paving seluruh jalan itu. Walhasil, rencana naik haji seketika batal karena simpanan Rp 60 juta habis untuk ongkos paving.
"Saya tidak pernah menyimpan uang di bank. Bukan apa-apa, tapi karena tanda tangan saya tidak pernah sama. Itu tentu tidak boleh kan?," katanya.
Hidup Sumirah teruji saat dia melihat banyak anak telantar di sekitar kampungnya. Dia nekat menampung 54 anak yatim itu di rumahnya yang berukuran 2,5 meter x 13 meter. Sebagian dari mereka saya kos-kan di depan rumah. Saya sewa tiga kamar,・katanya.
Masalah datang ketika anak asuhnya ndableg dengan menghabiskan air dan sabun milik ibu kos. Sekitar pukul 21.00 WIB, anak-anak itu diusir.
"Mereka saya tampung di rumah saya. Jadi, mereka tidur sambil duduk", kata Sumirah.
Esoknya, Sumirah mencari kontrakan untuk mereka. Tawaran kontrakan Rp 4 juta ditolak karena Sumirah tak punya duit. Di tengah kesulitan, ia berdoa. Mendadak ada semacam dorongan untuk menghubungi Pak Triyono, dermawan dari Barata Jaya. Sumirah kaget, Pak Triyono memberinya zakat maal (zakat kekayaan) sejumlah Rp 4 juta.
"Agar tidak mengganggu penduduk kampung, pagi-pagi sekali kami pindahan", katanya.
Panti Asuhan Amanah, kini menampung 60 anak yatim, dibangun Sumirah tahun 1996. Mereka kanak-kanak hingga remaja. Belum lama ini Sumirah mengasuh balita yang ditinggal mati bapaknya. Amelia, balita itu, sekarang berumur sembilan bulan.
"Oh ya, Saya sudah menikahkan 13 anak sini, 16 Oktober 2008 nanti saya mantu lagi", ujarnya dengan mata berbinar.
Untuk mencukupi hidup anak asuhnya, Sumirah tidak mengandalkan bantuan donatur yang sebagian adalah pelanggan pijatnya. Selepas subuh, anak yatim itu berdagang kelapa kupas, sayuran, dan bumbu. Sumirah dan suami juga membuka toko kelontong.
Mengakhiri kisahnya, Sumirah sempat bilang,
"Pergunakanlah mata hati. Banyak orang pintar yang belum tentu mengerti".
Sumber: Surya Online
Jumat, 26 September 2008
How To Become Star at Work
The only way you will ever truly succeed in this new knowledge-based economy is to become a star at work, that is, an individual who stands far above the crowd and one who is totally unique in a world where most people are trying to be more alike. The moment you make a deep commitment to becoming a star at work and burning all your bridges to the person that you once were, your life will change in an unmistakable way. The day you decide to start acting like the person you were destined to become is the day that you begin to tap into the wellspring of human talents that will lead you to your own form of personal greatness.
These are not the simple musings of yet another professional thinker spouting hackneyed euphemisms in the hope that one day someone will take note. These are the hard, cold facts of life - and they have been so for hundreds of years. And to deny them and continue living a life of complacency is to abandon your duty to do something special with your life.
As Ashley Montagu observed: “The deepest personal defeat suffered by human beings is constituted by the difference between what one was capable of becoming and what one has in fact become.”
To become a star at work and to start seizing some of the matchless opportunities that are out there in what I believe to be the most exciting time in the history of humanity, you first need to make the decision to raise the standards that you will work and live by commit to living by a benchmark far higher than anyone would have the right to expect from you. Take a good hard look at the way you spend your days and ask yourself whether your agenda reflects your priorities. If there is an incongruity between the activities you invest your energies in and the values you hope to live by, you have a problem and need to make some immediate course corrections. For example, if your goal is to have a meaningful and rewarding work experience but you devote your days spinning your wheels on mundane tasks that never advance your professional goals, you need to do refocus yourself on the things that truly count. If a rich and happy family experience is high on your list of life priorities but you have not been to your son’s soccer game in a year and you cannot remember the last time you sat down to do homework with your daughter, you need to sharpen your pencil and rework your schedule. The facts never lie and the activities of your schedule will ultimately reflect the quality of your life.
The next step in becoming a star at work is to dedicate yourself to becoming “a person of action”. In life there are three types of people. First are those that make things happen. Second are those that watch things happen. And third are those people who wake up one day, at then end of their lives, and ask “What Happened?” Today, make a firm decision to join the first group - the group of human beings who have decided that life is a gift and every day is a new opportunity to learn, grow and contribute.
As you go through this day, look for opportunities to bring a sense of excellence and mastery to your work. What little thing could you do over the next few hours to build relationships at work or make your clients say “Wow?” What mental attitudes could you adopt to reframe what is negative into positive and rekindle that enthusiasm that you had when you were just a kid? What simple gestures of decency could you do to show your teammates that you care and are committed to showing leadership in a world where real leaders are few and far between? As I wrote in my latest book “Who Will Cry When You Die?”: “the smallest of actions is always better than the noblest intentions,” and today is your chance to make a difference. “There’s nothing really difficult if only you begin.
Some people contemplate a task until it looms so big it seems impossible but I just begin and it gets done somehow. There would be no coral islands if the first bug sat down and began to wonder how the job was to be done,” noted John Shaw Billings.
Here are seven more things you can do over the next 10 days to become a star at work:
- Take your hero to lunch. Find someone who has created the kind of professional and personal life that you want and have the courage to take them out to lunch. If there is an author you admire and she lives in your city, pick up the phone and ask for a meeting. If you just read an inspiring article about someone who had turned adversity into advantage and you know you can learn from him, send out an e-mail and open up the lines of communication. In this new knowledge economy, the person who learns the most wins. Learn from heroes.
- Set “learning goals.” Most wise performers on the playing field of business set career, financial and personal goals but few set specific learning goals. For this year, I have set clear objectives as to how many books I will read, how many seminars I will attend and how many personal growth retreats I will visit. I also try and set a daily learning quota of three new things every day to keep me stimulated and excited about my work as a professional speaker and leadership coach.
- Become indispensable. While working at a major league legal firm after I had completed law school, I asked one of the senior partners what one had to do in order to become successful at this firm. His response has never left me and has been exceedingly helpful. “Robin,” he said, “the real secret of success is to be so good at what you do that this firm will not be able to run without you. Be so good at what you do that you are the first person that we all think of when we need advice. Be so good at what you do that you become indispensable. Then your success will be assured.” So my challenge to your is this: pick your best three talents - 3 core competencies that you have that truly make you special - and then commit to refining them over the coming twelve months until they set you apart from the crowd. Make a personal vow that you will become so good at your professional craft that you become indispensable to your team and to your organization as a whole. Then watch your career soar
- Make time to think. It is a strange paradox of the frenzied age that we live in that we have become so busy that we do not even have time to think about the things that we are so busy about. We spend our days on projects that need to get done and in meetings that need to be attended. We spend our evenings with people we need to meet and doing activities that need to be completed. But let me ask you? When was the last time you went for a solitary walk in the woods and deeply reflected on the way you are working and living? When was the last time you took a few hours to gain some real clarity into where you want to be professional and personally five years from now? Henry David Thoreau said: “It is not enough to be busy, so are the ants. The question is what are you so busy with?” Carve out at least one hour every week for some serious reflection, introspection and self-examination so that you will keep learning from your weeks.
- Start a reading group at work. If you want to be a leader, you must first become a reader. Knowing how to read and not doing so puts you in precisely the same position as someone who cannot read. We live in an age where ideas - not bricks and mortar - are the currency of success. One idea, well executed, can transform your team, your culture and your entire organization. One idea, read in a single book, can reshape your thinking processes, transform your character or renew your health. Here’s the thing: you just don’t know which book contains that one idea that will revolutionize your life. But believe me, it is out there. And it is waiting for you. Read daily and ensure those around you to do the same. The company that learns together stays together.
- Look like a star. Get serious about physical mastery. Commit to being in peak shape so you increase your energy levels and enhance your stamina. Rekindle that healthy glow that comes from running or swimming or going for a brisk walk at lunch. And make the time to dress and conduct yourself in a way that conveys your commitment to excellence, not only in business but in life.
- Think contribution. We all have a deep human hunger to be a part of something larger than ourselves. We all carry within us a core craving to do something important in our work lives and know that, at the end of the day, our energies have been invested in activities that have added value to the world and made a difference in people’s lives. Begin to see the higher meaning of the work that you are doing and stay focused on adding value to others. As the 13th Century philosopher Rumi said: “When you are dead, seek for your resting place not in the earth but in the hearts of men.”
Faith, Belief And Knowing
In every great book there are countless stories of men and women who had great purpose and high ideals; they worked toward and reached incredible goals. Time after time these people came up against obstacles or circumstances that would destroy the average person. These people would find themselves in situations that appeared devastating - they might have lost fortunes, loved ones or possibly had to battle some great physical problem but they never appeared to waiver; it seemed as if nothing could stop them.
You very likely can think of a number of people you know personally or know of, who might be Giants when it comes to producing in your industry.
The record of history in sports is filled with great examples.
What made these people Great was their Belief or Faith - it was unshakable. No one and nothing could disturb or destroy their Faith.
It could very easily appear as if some emotional or capricious God has singled out, reached out and touched these individuals and caused them to do such great things.
Everyone, including YOU, has been touched, blessed, endowed with the tools. You must develop a belief or faith based on understanding, just as these people did for themselves. Their faith was not blind, the bind that is easily shattered like fine crystal with the first knock that comes along. Their faith had a strong foundation based on understanding.
These people are often referred to as being in the spirit, and it is not difficult for them to Believe or have Faith, because they KNOW. They know they can do whatever they visualize. They know they are a dynamic, creative being. They choose the vision and they let God do the work, with and through them.
Recent Entries
What Is Motivation
Motivation is the drive to want to succeed in everything you do. Without it you will never succeed in life; you will surely fail in every venture you set out in. It is not something we are born with you can learn how to develop motivation so that you can succeed in life.
Motivation is the key to success; after all it is the characteristic that drives you into action. Without action you will never accomplish anything. Action is required to make things happen. If you expect something to happen without action and motivation; then you are just dreaming and nothing is ever going to change in your life.
One of the best ways to develop your motivation level is to utilize positive affirmations and begin telling yourself that you have the the desire and drive to work towards your goals everyday. Utilize the affirmations on a daily basis; as you do this you will begin to influence your subconscious to make it a reality. You will be surprised at how your subconscious will become brainwashed and your belief about your being able to be do have anything will grow. You will notice yourself building a burning desire to make your goals a reality. Without this desire you will stop working towards your goals at the first sign of adversity.
Have you ever worked towards your goals and noticed yourself becoming discouraged before you reach them. If you have set goals for yourself and have them written out yet have not taken any action to make them a reality; today is the day to begin working towards them. Remember you create your life the way you want it to be. If things are not going exactly the way you would like it to; you have the power to begin changing it. However without the motivation to begin taking steps towards improving any area of your life; things will remain the same.
If your goal is to make more money you have to have the motivation of why you want to make more money. Ask yourself “why do you want to make more money?” Are you tired of living paycheck to paycheck? Maybe you are tired of working long hours and not being able to purchase the things you would like to have. Whatever the reason you have, are the reasons you will need to build the motivation to keep working towards your goals. You must have a reason of why you want to improve something in your life. If you are content with the way things are; then you will never be able to overcome any adversities that come your way.
See you can change anything in your life and anything that you set your mind to. It all comes down to motivation; without it you will never accomplish anything different. Motivation can be your best friend if you develop it you will conquer everything you attempt. It can also be your worst enemy because without it you might as well be happy with things the way they are because you will never take the action required to change anything in your life.
Kisah Sekeping Talenta Emas
Perlahan-lahan sang guru mengangkat tangannya. Satu keping talenta emas tampak di terjepit diantara ibu jari dan telunjuk beliau. Benda itu terlihat semakin berkilau ditimpa cahaya matahari. Para murid bergumam tidak mengerti.
"Anak-anak ku", sang guru pun mulai bersabda,
"Siapakah dari antara kalian yang menginginkan benda ini, jika aku memberikannya?". Kini semua mata memandang kearah ujung jari Azarya. Sekeping talenta emas. Nilainya setara dengan bayaran seratus hari kerja orang upahan. Sama sekali bukan jumlah yang sedikit. Serta merta belasan orang itu mengangkat tangannya.
"Saya guru…saya guru …!!", seru mereka. Sesaat Azarya tersenyum mengelus janggut nya.
"Hanya orang yang telah kehilangan akal sehatnya yang akan menolak pemberian satu keping talenta emas ini", lanjut nya sambil menurunkan tangan. Kemudian tangan kiri Azarya bergerak mengambil sebuah mangkuk kecil didepannya. Cairan kermizi yang berwarna merah pekat tampak mengisi separuh mangkuk itu. Perlahan-lahan keping emas itu dicelupkannya ke dalam mangkuk, hingga beberapa saat.
"Masihkah kalian menginginkan benda ini ?", tanya Azarya sambil kembali mengacungkan keping emas yang telah berubah warna itu.
"Tentu, guru !", jawab para murid serempak.
Azarya memandangi kepingan berwarna merah pekat di tangan nya, tiba-tiba ia membuang keping emas itu kepermukaan tanah sepelempar batu jauhnya. Beberapa muridnya terlihat menggeser tempat duduknya menjauh.
"Kau !", tunjuk sang guru ke arah salah satu muridnya,
"Tampillah ke muka". Orang yang ditunjuk segera menaati perintah gurunya.
"Ludahi keping emas itu !", perintah sang guru. Murid itu tampak ragu, ia memandang bergantian ke arah keping emas itu dan guru nya memastikan apa yang didengarnya.
"Lakukan apa yang ku perintahkan", kata Azarya sambil tersenyum. Segera setelah muridnya meludahi keping emas itu, Azarya kembali bertanya,
"Masihkah kalian menginginkan talenta itu ?".
"Tentu saja guru", kembali terdengar jawaban dari arah para murid.
"Jika demikian baiklah, kau bertiga ludahi lagi dan injak-injak keping emas itu !!", perintah Azarya. Ketiga orang itu pun melakukan persis seperti yang gurunya perintahkan. Sekarang keping emas itu telah berubah rupa. Permukaannya yang tadinya berkilau kini tak lebih merupakan benda kotor yang sangat menjijikkan. Azarya berdiri, mengibaskan jubahnya, kemudian berjalan menghampiri keping emas itu. Sesaat ia memandangi benda itu, kemudian ikut meludahinya.
"Anak-anakku, lihatlah benda yang menjijikkan itu.", kata Azarya sambil memandangi wajah-wajah mereka,
"Masihkah ada seseorang diantara kalian yang menginginkannya ?". Murid-murid saling berpandangan satu sama lain, beberapa diantara mereka tampak mengangguk-angguk.
"Tentu Guru kami semua masih menginginkannya", jawab mereka serempak. Mendengar jawaban para murid, Azarya mengambil sebuah capit dari kayu. Ia memungut benda itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kini dengarkanlah anak-anakku", sang guru pun bersabda,
"Kalian dan siapa pun akan tetap menginginkan keping emas itu, karena apapun keadaan yang mata kalian lihat, sekeping talenta emas, tetaplah sekeping talenta emas !"
Murid-muridnya terlihat saling berpandangan, sebagian dari mereka tampak mengangguk-angguk membenarkan perkataan sang guru.
"Serupa dengan keping talenta emas ini", Azarya melanjutkan,
"Diri kalian pun, senista, secacat, sehina apapun, tetaplah mulia dan berharga. Kemiskinan, kecacatan, keadaan terkeji sekalipun tidaklah sanggup mengubah nilai seorang manusia. Manusia telah diciptakan demikian mulia"
Azarya memandangi murid-murid nya lekat-lekat, setelah itu ia berjalan ke arah kandang ternak yang berada tak jauh dari mereka. Murid-muridnya segera bangkit, mengikuti guru mereka dari belakang.
"Seperti apa yang ku janjikan kepada kalian.", kata Azarya sambil menoleh,
"Aku akan memberikan keping talenta emas ini kepada siapa pun yang mengingingkannya. Ambilah !". Dengan satu gerakan, Azarya melemparkan keping emas itu ke dalam tumpukan kotoran ternak yang tampak menggunung. Segera saja keping talenta emas itu membenam tak terlihat. Belum lagi Azarya menjauh dari tempat itu, murid-muridnya yang berjumlah belasan itu merangsek masuk ke dalam kandang. Mereka saling mendorong, berdesakan, saling himpit. Tidak sedikit dari mereka yang terinjak-injak oleh temannya sendiri Beberapa orang malah terlihat bergulat diantara kotoran ternak. Yang lain terlihat saling tinju dan saling hantam. Bak dihajar angin puting beliung, serta merta kandang yang semula aman damai itu jadi begitu berantakan. Lembu, kambing, domba berlarian keluar. Pagar kayu dan dinding kandang rusak berat. Azarya sesaat membiarkan kerusuhan itu terjadi, hingga ia merasa waktunya cukup.
"Hentikan !", seru sang guru dan perkelahian itu pun serta merta berhenti,
"Rupanya kalian belum juga mengerti. Barangsiapa bertelinga hendaklah mendengar ! Camkanlah apa yang ku katakan kepadamu hari ini dan belajarlah darinya."
Azarya segera menghampiri murid-muridnya yang berlumuran kotoran hewan,
"Sang Khalik, Pencipta kita, mengerti benar betapa berharga diri kita, manusia-manusia ini. Begitu juga dengan iblis-iblis jahat penghuni kegelapan, mereka juga tahu persis betapa mulianya kita. Satu-satunya yang sering tidak mengerti akan tingginya harga itu adalah kita, manusia itu sendiri. Manusia sering tidak mengetahui betapa mulianya ia dicipta. Bahkan tidak jarang, karena kebodohannya, manusia menukar kemuliannya dengan sesuatu yang sama seklai tidak berharga. Jadi mulai saat ini, jangan biarkan apapun dan siapapun bahkan hidup ini mendustai kalian, dan membuat kalian tidak berharga. Karena kalian jauh lebih mulia dari ribuan keping telenta emas !!".
by MTA – Made Teddy Artiana
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/
